Ratusan Keluarga di Compang Weluk Masih Bertahan di Tenda, Butuh Sembako hingga Popok Bayi
Manggarai Timur, iNewsFlores.id – Ratusan keluarga di Desa Compang Weluk, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, hingga kini masih bertahan di tenda-tenda darurat setelah rumah mereka rusak akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Tenda-tenda terpal didirikan warga di halaman rumah masing-masing. Mereka memilih tidak kembali ke dalam rumah karena khawatir terhadap kondisi bangunan yang rusak dan ancaman gempa susulan.
Kepala Desa Compang Weluk, Vincent Mores, mengatakan seluruh warga yang rumahnya terdampak kini mengungsi di posko-posko mandiri.
“Semua warga di sini tidak ada yang tinggal di dalam rumah. Kami tinggal di tenda-tenda yang kami bangun di halaman rumah,” ujar Vincent melalui sambungan WhatsApp, Sabtu (22/8/2026).
Foto-foto yang dikirim Vincent memperlihatkan kondisi sejumlah rumah yang mengalami kerusakan parah. Dinding bangunan roboh, material berserakan, sementara atap seng ambruk menimpa bagian rumah.
Di antara reruntuhan, sejumlah tenda terpal tampak menjadi tempat berlindung warga. Anak-anak terlihat berada di dalam tenda, sementara barang-barang kebutuhan sehari-hari ditumpuk di sekitar tempat pengungsian.
80 Rumah Rusak, 279 KK Mengungsi
Pemerintah Desa Compang Weluk mencatat sedikitnya 80 rumah warga mengalami kerusakan akibat gempa. Rinciannya, 61 rumah rusak berat, 16 rusak sedang dan tiga rusak ringan.
Kerusakan juga melanda sejumlah fasilitas umum, di antaranya SDI Nggola, Poskesdes Nggola, Kantor Desa, Pamsimas, kapela serta tower Kominfo.
Sebanyak 279 kepala keluarga (KK) yang tinggal di 205 rumah kini mengungsi di posko-posko mandiri.
Bantuan Mulai Berdatangan
Vincent mengatakan bantuan pemerintah mulai diterima desa pada 20 Agustus 2026.
Pada tahap pertama, bantuan tanggap darurat dari pemerintah daerah dan Presiden berupa 100 kilogram beras, 60 butir telur, 10 bungkus mi instan, tiga bungkus kopi bubuk, dua bungkus teh, tiga bungkus margarin dan dua kaleng ikan ukuran sedang.
Pemerintah Desa Compang Weluk juga menggunakan Dana Desa untuk membantu warga terdampak.
“Bantuan desa bersumber dari Dana Desa Bidang Pemerintahan, Sub Bidang Operasional Pemerintahan Desa,” jelas Vincent.
Bantuan tersebut berupa 400 kilogram beras dan 10 dos mi instan. Bantuan kemudian dibagikan secara merata kepada 279 KK yang mengungsi.
“Bantuan desa kami bagi rata kepada 279 KK yang tinggal di 205 rumah yang saat ini mengungsi di posko-posko mandiri. Untuk warga yang tinggal satu rumah dua keluarga, kami hitung satu untuk jatah bantuan desa,” katanya.
Bantuan kembali diterima dari posko kabupaten pada 21 Agustus 2026. Bantuan tahap kedua terdiri atas 300 kilogram beras, dua dos mi instan, satu tenda dan satu selimut.
Selain bantuan pemerintah, warga juga mendapat dukungan dari donatur yang menggalang dana melalui Facebook.
Dana sebesar Rp2,2 juta telah digunakan untuk membeli 150 kilogram beras dan 50 bungkus makanan ringan bagi anak-anak.
Masih Butuh Popok Bayi dan Obat-obatan
Meski bantuan mulai berdatangan, kebutuhan warga terdampak gempa di Compang Weluk masih cukup besar.
Vincent mengatakan warga masih membutuhkan berbagai kebutuhan dasar untuk bertahan selama berada di tenda darurat.
“Kebutuhan yang masih sangat diperlukan warga meliputi sembako, uang tunai, tenda atau terpal, selimut, obat-obatan, perlengkapan bayi dan pakaian layak pakai,” ungkapnya.
Kondisi warga yang masih bertahan di tenda menjadi gambaran beratnya dampak gempa bagi masyarakat Compang Weluk. Di tengah trauma dan kekhawatiran terhadap gempa susulan, mereka masih harus memenuhi kebutuhan sehari-hari sambil menunggu kondisi rumah dan lingkungan kembali aman untuk ditempati.
Editor : Yoseph Mario Antognoni