get app
inews
Aa Text
Read Next : Update Gempa Flores Timur Magnitudo 4,7: 15 Warga Terluka, 5 di Antaranya Alami Luka Berat

Khawatir Gempa Susulan, Warga di Adonara Bermalam di Halaman Rumah

Jum'at, 10 April 2026 | 22:04 WIB
header img
Warga Desa Terong, Adonara Timur, Flores Timur, tidur di halaman rumah setelah gempa mengguncang wilayah tersebut. (Foto: Istimewa).

Flores Timur, iNewsFlores.id- Getaran gempa tektonik yang mengguncang wilayah tenggara Larantuka pada Rabu malam hingga Kamis dini hari, 9 April 2026, menyisakan kecemasan mendalam bagi warga di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. 

Hingga pagi hari pascagempa, sebagian warga di Desa Terong dan Lamahala memilih tidak kembali ke dalam rumah. Mereka bertahan di luar bangunan, mendirikan tenda darurat di halaman, sembari mengantisipasi kemungkinan gempa susulan yang lebih besar.

Situasi di lapangan memperlihatkan kehati-hatian warga yang masih diliputi rasa trauma. Guncangan yang terjadi pada malam sebelumnya mendorong mereka untuk mengambil langkah aman dengan menjauh dari bangunan permanen. Selain faktor psikologis, kerusakan fisik pada sejumlah rumah turut memperkuat alasan warga untuk tetap berada di ruang terbuka.

Di Desa Terong, Kecamatan Adonara Timur, dampak gempa terlihat cukup signifikan. Sejumlah rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat, terutama pada bagian struktur utama. Dinding retak, atap runtuh sebagian, hingga bangunan yang tak lagi layak huni menjadi pemandangan yang umum dijumpai di wilayah tersebut.

Husen, salah seorang warga Desa Terong, mengisahkan kepanikan yang terjadi saat gempa mengguncang pada dini hari. Ia menyebutkan bahwa getaran terasa sangat kuat sehingga warga spontan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Husen, salah seorang warga Desa Terong, mengisahkan kepanikan yang terjadi saat gempa mengguncang pada dini hari. Ia menyebutkan bahwa getaran terasa sangat kuat sehingga warga spontan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

"Kami terbangun karena guncangan yang sangat kuat. Semua orang panik dan langsung lari keluar rumah tanpa sempat membawa apa-apa. Untuk sementara ini, kami bangun tenda. Kami bermalam di luar rumah," kata Husen saat dikonfirmasi media ini. 

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat aktivitas gempa susulan yang cukup intens pasca-gempa utama. Hingga Kamis pagi, sedikitnya terjadi 48 kali gempa susulan. Rentetan gempa tersebut turut memperparah kondisi bangunan yang telah terdampak sebelumnya serta memperpanjang rasa cemas di tengah masyarakat.

Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menjelaskan bahwa gempa utama terjadi pada Rabu pukul 23.17 WIB dengan magnitudo 4,7. Menurut dia, episenter gempa berada pada koordinat 8,36 derajat lintang selatan dan 123,15 derajat bujur timur. Lokasinya berada di darat, sekitar 24 kilometer arah tenggara Larantuka, dengan kedalaman 5 kilometer.

Kedalaman gempa yang relatif dangkal tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan getaran terasa kuat di permukaan, meskipun magnitudonya tergolong sedang. Kondisi ini pula yang menjelaskan mengapa kerusakan bangunan cukup banyak terjadi di wilayah terdekat dari pusat gempa.

Hingga saat ini, warga masih memilih untuk tetap siaga. Mereka mengandalkan tenda darurat dan perlengkapan seadanya untuk bertahan di luar rumah. Di tengah keterbatasan tersebut, harapan akan kondisi yang segera stabil menjadi penopang utama bagi masyarakat untuk kembali menjalani aktivitas seperti sediakala.

Editor : Yoseph Mario Antognoni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut