Enam Hari di Tenda, Warga Kambe Menunggu Bantuan Pemerintah di Tengah Trauma Gempa Susulan

Rosis Adir
Sebagian keluarga memilih mendirikan tenda di sekitar rumah mereka yang rusak di Manggarai Timur. (Foto: iNewsFlores.id/Rosis Adir).

MANGGARAI TIMUR, iNewsFlores.id – Enam hari setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, puluhan keluarga di Kampung Kambe, Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di tenda pengungsian.

Tenda-tenda beratap dan berdinding terpal berjejer di lapangan sepak bola Seminari Kisol, RT Kambe. Dari salah satu tenda, terdengar tangisan bayi pada Jumat siang, 21 Agustus 2026.

Dua orang ibu terlihat keluar sambil menenangkan dua bayi yang menangis bersamaan. Di tenda lainnya, sejumlah ibu dan anak-anak usia sekolah dasar berbaring sambil menatap layar ponsel.

Beberapa ibu lainnya memasak di bawah tenda terbuka yang beratapkan lembaran seng.

“Laki-laki (dewasa) banyak yang sudah ke kebun dan bekerja,” kata Maria Dhiu, salah satu ibu di lokasi pengungsian.

Sebanyak 26 keluarga dari total 63 keluarga di Kampung Kambe yang rumahnya terdampak gempa kini tinggal di tenda pengungsian di lapangan sepak bola. Sebagian keluarga lainnya memilih mendirikan tenda di sekitar rumah mereka yang rusak.

“Sejak gempa, kami tidak tinggal di rumah karena rumah-rumah kami rusak,” kata Floriana Due, warga lainnya.

Bertahan dengan Keterbatasan

Kehidupan warga di pengungsian masih jauh dari normal. Di antara mereka terdapat bayi, balita, anak-anak, ibu menyusui, hingga lansia.

Floriana mengatakan kebutuhan mendesak warga saat ini adalah makanan, air bersih, popok bayi dan balita, serta vitamin atau susu bagi lansia.

“Kami yang mengungsi dari Kampung Kambe ada empat bayi, lebih dari sepuluh balita, belasan anak-anak dan beberapa lansia,” ujarnya.

Beberapa hari setelah gempa utama, warga masih bertahan dengan persediaan makanan yang mereka miliki. Ketika stok mulai menipis, bantuan dari masyarakat dan para donatur mulai berdatangan.

Sebagian bantuan disalurkan melalui Posko Tanggap Bencana Paroki Kisol yang dikelola Orang Muda Katolik (OMK).

“Ada juga orang atau lembaga yang datang langsung membawa makanan dan kebutuhan lainnya ke posko pengungsian kami,” kata Floriana.

Namun, kebutuhan air bersih masih menjadi persoalan. Pasalnya, jaringan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) tidak lagi mengalir ke rumah-rumah warga setelah gempa.

Bantuan Pemerintah Belum Sampai

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah Kabupaten Manggarai Timur mulai mendistribusikan bantuan darurat berupa 60 ton beras ke 12 kecamatan sejak Selasa.

Pada Kamis, bantuan berupa sembako dari Bantuan Presiden, tenda, selimut, pakaian bayi, serta logistik lainnya juga mulai disalurkan dari BNPB, lembaga swasta, dan sejumlah individu.

Sekretaris Daerah Manggarai Timur sekaligus Ketua Satgas Penanggulangan Bencana Gempa Bumi, Winsensius Tala, mengatakan bantuan dari posko kabupaten didistribusikan ke posko kecamatan untuk kemudian disalurkan ke desa berdasarkan data warga terdampak.

“Semua biaya mobilisasi ditanggung pemerintah kabupaten,” katanya.

Namun hingga Jumat siang, bantuan sembako dari pemerintah belum diterima warga pengungsi di Kampung Kambe.

“Sampai saat ini, bantuan sembako dari pemerintah belum sampai ke kami,” ujar Floriana.

“Informasi yang kami dengar masih di kantor lurah,” tambahnya.

Sejauh ini, kata Floriana, tenaga kesehatan menjadi salah satu pihak yang rutin mengunjungi tenda untuk memeriksa kondisi warga.

“Kami berterima kasih untuk tenaga kesehatan yang telah memperhatikan kami,” katanya.

Puluhan Rumah Rusak

Kampung Kambe berada di sisi barat kompleks Seminari Kisol. Permukiman yang dihuni hampir 100 keluarga itu mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa.

Sejumlah rumah mengalami kerusakan pada bagian dinding dan tembok. Puing-puing batako masih terlihat berserakan di dalam maupun sekitar bangunan.

Sebagian rumah lainnya mengalami retakan panjang dan tidak beraturan. Rumah dengan konstruksi kayu dan bambu relatif masih bertahan.

“Sebanyak 63 keluarga yang rumahnya rusak atau retak mengungsi ke sejumlah tenda darurat, baik di lapangan sepak bola maupun di sekitar rumah,” kata tokoh masyarakat Kambe, Sebas Anggal.

Kerusakan juga terjadi pada Gereja Katolik Paroki Kisol. Sejumlah tiang beton dan bagian dinding di teras depan gereja terlihat ambruk.

“Gedung asrama seminari juga rusak,” ujar Sebas.

Seorang warga Kambe juga meninggal dunia setelah tertimpa runtuhan tembok rumah saat gempa utama terjadi.

“Bapak tua itu meninggal setelah pintu rumah tidak bisa dibuka saat ia hendak keluar ketika gempa terjadi. Saat itu tembok dinding runtuh menimpanya,” tutur Sebas.

Masih Trauma Gempa Susulan
Ancaman gempa susulan membuat warga memilih tetap bertahan di tenda.

BMKG mencatat hingga Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 06.00 WITA, telah terjadi 4.258 gempa susulan. Sebanyak 118 gempa dirasakan masyarakat dan 31 di antaranya bermagnitudo di atas 5,0.

Di Manggarai Timur, Posko Penanggulangan Bencana Gempa Bumi mencatat 27 orang meninggal dunia dan lebih dari 600 orang mengalami luka-luka. Hampir 15 ribu rumah dilaporkan rusak, sementara jumlah pengungsi mendekati 32 ribu jiwa yang tersebar di 12 kecamatan.

Bagi warga Kambe, angka-angka tersebut menggambarkan trauma yang masih mereka rasakan hingga kini.

“Rumah-rumah kami sudah rusak. Ada yang sebagiannya sudah roboh dan ada yang retak. Kami trauma kembali ke rumah karena gempa susulan terus berlangsung,” kata Floriana.

Di tengah tangisan bayi, aktivitas memasak, dan warga yang berusaha kembali bekerja, puluhan keluarga Kambe masih menunggu satu hal: bantuan yang diharapkan segera tiba, agar mereka dapat bertahan melewati hari-hari sulit setelah gempa.

Editor : Yoseph Mario Antognoni

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network