Jalan Rusak, Warga di NTT Bawa Pasien Sejauh 3 Kilometer

Joni Nura
.
Rabu, 13 Juli 2022 | 15:27 WIB
Sulastri (38), saat membawa anak sejauh 3 kilometer dengan berjalan lantaran akses jalan rusak parah, Rabu (13/07/2022). Foto: InewsFlores.id/Joni Nura

Sikka, iNewsFlores.id-Seorang Ibu di Nusa Tenggara Timur harus bersusah payah menggendong anaknya yang sakit sejauh 3 (tiga) kilo meter demi mendapatkan pelayanan medis di Puskesmas terdekat.

Sulastri (38), seorang Ibu muda di Kampung Kepiketik, Dusun Pigang, Desa Mahekelan, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, terpaksa harus bersusah payah membawa pasien berjalan kaki sejauh 3 kilometer lantaran akses jalan rusak parah, Rabu (13/07/2022). 

Akses fasilitas kesehatan dari kampung  itu cukup jauh. Itu sebabnya, demi mendapatkan fasilitas kesehatan Sulastri terpaksa harus  membawa pasien dengan cara menggendong. 

"Kendaraan tidak bisa lewat karena jalan rusak parah," ungkap Sulastri (38) warga Dusun Pigang. 
Ia mengaku terpaksa berjalan kaki untuk berobat karena akses jalan dari kampung tempat tinggalnya menuju Puskesmas Waigete rusak parah.

Warga lain Lorensius Lorens (48) mengaku, kondisi jalan menuju Kampung Kepiketik sangat sulit untuk dilintasi kendaraan roda dua maupun  roda empat.

Hal itu selain karena rusak,  jalan juga penuh tanjakan dengan medan yang terjal sejauh tiga kilometer.
"Sejak saya tinggal di Kepiketik, ini sudah kali kesepuluh saya melihat warga menggotong pasien ke Puskesmas Waigete," katanya. 

Lorensisus mengatakan, pihaknya sudah  berupaya bersama masyarakat untuk kerja bakti memperbaiki jalan tersebut. Namun di saat musim hujan tiba jalan tersebut kembali rusak parah. 
Ia mengaku sudah berulangkali mengusulkan pembangunan jalan, namun hingga saat ini belum ada respons dari pemerintah desa setempat.

"Warga sering jatuh kalau lewat di jalan ini, sering terjatuh namun mau bagaimana lagi, ini akses satu-satunya kami menuju Kota Maumere," kata Lorensius. 

Untuk diketahui, di Kampung Kepiketik sendiri terdapat 70 kepala keluarga dan satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan satu kapela darurat.

Editor : Yoseph Mario Antognoni
Bagikan Artikel Ini