Logo Network
Network

Proyek Irigasi Belasan Miliar Rupiah di Labuan Bajo Tidak Lanjut, Akan Terjadi Kelaparan di Mabar

Siprianus Robi
.
Kamis, 18 Januari 2024 | 23:36 WIB
Proyek Irigasi Belasan Miliar Rupiah di Labuan Bajo Tidak Lanjut, Akan Terjadi Kelaparan di Mabar
Pengerjaan proyek rehabilitasi irigasi Sub. D.I Wae Dongkong, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Foto: iNewsFlores.id/ Siprianus Robi

Labuan Bajo, iNewsFlores.id- Proyek pengerjaan rehabilitasi irigasi Wae Dongkong, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan pagu anggaran Rp. 11.146.793.000 yang bersumber dari program Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP), hingga saat ini tidak dilanjutkan lantaran pihak kontraktor pelaksana PT Kalber Reksa Abadi diketahui sudah putus  hubungan kontrak kerja dengan Balai Sungai Nusa Tenggara Timur II.

Pemutusan hubungan kontrak kerja proyek belasan miliar tersebut disampaikan oleh Jaenal Arifin selaku Kepala Cabang PT Kalbe reksa Abadi saat ditemui oleh awak media, Rabu (17/1/2024).

"Kalau kita dari PT Kalber Reksa Abadi tidak melakukan perpanjangan hari kerja, karena kita sudah putus hubungan  kontrak dengan pihak balai Sungai NTT. Mungkin kalau penambahan 90 hari kerja itu mungkin proyek saluran irigasi di Wae Mese," ungkap Jaenal 

Ia juga menjelaskan putus hubungan kerja itu sekitar tanggal 15 Desember 2023 lalu karena bobot atau progres kerja belum mencapai 50 persen.

"Kita putus kerja itu sekitar tanggal 15 Desember 2023 lalu dan itu karena progres kerjanya itu belum mencapai 50 persen. 

Dan memang beda versilah bobot kerja kita kalau versi konsultan itu bobot atau progres kerja kita baru mencapai 25 persen sehingga tidak ada penambahan waktu kerja," ungkapnya.

Jaenal menjelaskan, dalam hitungan pembayaran proyek itu pihak Satker Balai Sungai NTT menghitung volume kerja yang sudah dicor yaitu 25 persen dari pagu anggaran proyek rehabilitasi irigasi tersebut.

"Kemudian yang dihitung progres itu yang sudah dicor dan sebenar yang sudah kita kerjakan itu banyak dan versinya kita kemarin itu mencapai 33 persen cuman versi konsultan 25 persen dan kami terima itu sekitar 2 miliar lebih. Dan kita itu kerja tiga titik bendung yaitu, saluran irigasi Wae Deleng, Wae Dongkong dan Wae Cebong," ucapnya.

Terpisah, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek rehabilitasi irigasi D I Nggorang Sub D.I Wae Dongkong Agus Umbu membenarkan terkait pemutusan kontrak kerja dengan PT Kalber Reksa Abadi.

"Terkait dengan pekerjaan rehabilitasi Jaringan Irigasi Kewenangan Pusat D.I Nggorang sub D.I Wae Dongkong di Kab. Manggarai Barat, kami telah lakukan Pemutusan Kontrak kerja dengan PT Kalber Reksa Abadi, sesuai dengan aturan yang berlaku. Mksh," tulis Agus Umbu saat dikonfirmasi oleh media ini melalu pesan WhastApp, Kamis (18/1/2023).

Agus Umbu menjelaskan pemutusan kontrak kerja tersebut karena progres fisik lapangan hanya 26,17 persen. Kata dia sesuai PMK 109 pemberian kesempatan melanjutkan pekerjaan paling sedikit progres fisik pekerjaan telah mencapai 50 persen.

"Sampai dengan batas akhir SCM III Progres fisik lapangan 26,17 %, sesuai PMK 109 Pemberian Kesempatan melanjutkan pekerjaan, paling sedikit progres fisik pekerjaan telah mencapai 50%," ungkapnya.

Terkait kelanjutan dari pengerjaan proyek tersebut Agus Umbu mengatakan hingga saat ini belum dilanjutkan tergantung persetujuan pembina di Jakarta dan kesiapan anggaran.

"Untuk saat ini tidak ada, tergantung persetujuan pembina di jkt dan kesiapan anggaran nantinya. Kami tetap berusaha," ungkapnya.

Sementara, Kepala Satuan Kerja NVT PJPA NT II Provinsi NTT Bernadeta Thea mengatakan pihaknya akan mengusulkan kembali untuk kelanjutan proyek tersebut.

"Utk kelanjutannya kami usulan kembali," tulis Bernadeta saat dihubungi oleh media ini melalu pesan WhastApp, Kamis (18/1/2023).

Salah seorang masyarakat setempat yang namanya tidak ingin ditulis mengaku kecewa dengan proyek tersebut.

Ia menyebut masyarakat sudah berharap banyak terhadap rehabilitasi irigasi itu namun pengerjaannya sangat mengecewakan.

"Kami sudah bersedia untuk tidak menanam dalam satu tahun ini tetapi proyeknya juga tidak diselesaikan, dan kerjanya asal-asalan, mereka kerja itu hanya tempel saja campuran diatas irigasi yang sudah lama," ungkap sumber itu dengan nada kesal.

"Irigasi ini sangat penting bagi kami petani disini, jadi yang kami minta itu harus kerja yang benar bukan kasih tempel saja diatas ban irigasi yang sudah lama, pemerintah sudah sediakan anggaran yang besar tetapi yang kerja ini seperti ini," lanjut sumber itu 

Sebelumnya, Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi menyampaikan curhat kepada Menko Perekonomian Airlangga Hartarto terkait dampak dari keterlambatan proyek tersebut saat temu wicara dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Senin (15/1/2023) lalu.

Pada kesempatan itu, Bupati Edi menyebut dengan keterlambatan penyelesaian proyek irigasi diberbagai tempat akan terjadi kelaparan di Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Ia mengatakan secara sepihak Balai Sungai NTT melarang masyarakat untuk menanam khususnya di irigasi persawahan Walang.

"Secara sepihak teman-teman dari pihak Balai Sungai untuk melarang  masyarakat itu dia larang tanam khususnya di irigasi Wae Walang diberi kesempatan lagi kepada pihak ketiga yang mengerjakan itu untuk stop selama 90 hari itu sama dengan tiga bulan yang nota bene tahun lalu itu mereka full tidak mengerjakan sawahnya kalau ditambah 90 hari lagi itu artinya kelaparan itu saya pastikan terjadi di kabupaten ini," ungkap Bupati Edi.

Bupati Edi juga menyampaikan dampak keterlambatan proyek irigasi itu juga dialami oleh masyarakat yang ada di Kecamatan Lembor. Ia mengatakan tahun lalu petani tidak bisa menanam lalu pihak ketiga yang mengerjakan proyek irigasi tidak mampu menyelesaikan pengerjaan sampai 31 Desember 2023 lalu kemudian diperpanjang lagi, itu berarti pemasok beras untuk Kabupaten Manggarai Barat dan NTT secara keseluruhan itu sangat turun.

"Termasuk di Kecamatan Lembor, tahun lalu sudah mereka  tidak tanam lalu pihak ketiganya lagi tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya sampai 31 Desember 2023 lalu diperpanjang lagi yang artinya pemasok beras untuk kabupaten ini dan secara keseluruhan untuk NTT itu sangat turun," ungkapnya.

Bupati Edi berharap kepada pemerintah pusat agar kedepannya pihak ketiga yang mengerjakan proyek-proyek yang ada kaitannya dengan ketahanan pangan untuk dikerjakan dengan cepat dan orangnya memang mempunyai kemampuan yang luar biasa.

"Besar harapannya supaya kedepan agar  pihak ketiga yang mengerjakan proyek-proyek yang sifatnya ada kaitan dengan ketahanan pangan ini supaya itu dilakukan dengan cepat dan orang yang memang punya kemampuan yang luar biasa," ucapnya.

Editor : Yoseph Mario Antognoni

Follow Berita iNews Flores di Google News

Bagikan Artikel Ini