Indonesia Tak Bisa Terus Jual Bahan Mentah, Publik Desak Hilirisasi Berbasis Industri Hijau

Yoseph Mario Antognoni
Saskia Tjokro. Foto: iNswsFlores.id/Ist

JAKARTA, iNewsFlores.idHilirisasi mineral kritis di Indonesia dinilai tidak akan memberikan manfaat ekonomi maksimal jika hanya berfokus pada aktivitas ekstraksi sumber daya alam tanpa membangun ekosistem industri yang mampu menciptakan nilai tambah dan menarik investasi jangka panjang.

Pandangan tersebut disampaikan dalam diskusi publik oleh Direktur Angin Dampak Jaya, Saskia Tjokro, dalam sesi panel bertajuk "The Race Up the Green Value Chain: Is Downstreaming Powering Indonesia's Growth?" pada rangkaian Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (1/8).

Dalam diskusi yang juga menghadirkan Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia Fransiscus Soerjopranoto, Direktur Eksekutif CERAH Agung Budiono, serta Direktur Energy Shift Indonesia Putra Adhiguna, para pembicara membahas strategi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia untuk meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi berkelanjutan.

Saskia menegaskan, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari banyaknya tambang atau smelter yang dibangun. Menurutnya, Indonesia harus menciptakan ekosistem industri yang mampu mendorong inovasi, transfer teknologi, serta membuka lapangan kerja berkualitas.

Ia mencontohkan kawasan Weda Bay yang dikembangkan sebagai pilot project ekosistem industri pemerintah dan kini menjadi perhatian sejumlah negara seperti Ghana, Uganda, dan Kolombia. Namun, ia mengingatkan bahwa pembangunan industri juga membawa konsekuensi berupa dampak sosial dan lingkungan yang harus diawasi secara serius.

Selain kekayaan mineral, Indonesia juga memiliki modal besar berupa sumber daya manusia. Saskia menyebut jutaan mahasiswa yang lahir setiap tahun merupakan potensi besar untuk memperkuat inovasi nasional, asalkan didukung ekosistem riset, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta kolaborasi dengan laboratorium dan institusi internasional.

Dalam paparannya, Saskia menegaskan bahwa investasi hijau tidak boleh bersifat eksploitatif.

"Ketika berinvestasi, kami tidak melakukannya secara ekstraktif. Tujuan investasi harus memiliki manfaat yang baik secara inheren, bukan hanya mengejar keuntungan ekonomi semata," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa investor berdampak (impact investor) tetap mempertimbangkan keuntungan finansial. Karena itu, pemerintah perlu menetapkan regulasi yang lebih jelas mengenai standar keberlanjutan, termasuk indikator ketenagakerjaan, keselamatan kerja, dan dampak lingkungan.

Menurutnya, standar tersebut tidak boleh hanya menjadi bahan negosiasi antara investor dan pelaku usaha, melainkan harus menjadi ketentuan yang wajib dipenuhi.

Saskia juga menyoroti fakta bahwa lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih bergantung pada ekstraksi sumber daya alam. Kondisi itu dinilai menunjukkan bahwa transformasi menuju ekonomi berbasis industri bernilai tambah masih menjadi pekerjaan besar.

Ia mengingatkan Indonesia dapat mengalami fenomena resource curse atau kutukan sumber daya alam apabila terus bergantung pada ekspor komoditas mentah tanpa mengembangkan industri hilir.

Sebagai contoh, ia menyinggung Kolombia yang telah puluhan tahun menjadi salah satu produsen tembaga terbesar dunia, namun belum sepenuhnya berhasil meningkatkan nilai tambah melalui industrialisasi.

Di akhir pemaparannya, Saskia menekankan pentingnya peran organisasi masyarakat sipil (CSO) dalam mendukung investasi hijau.

Menurutnya, laporan dan temuan dari masyarakat mengenai praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG) menjadi informasi penting yang dipertimbangkan investor global sebelum menanamkan modal.

"CSO memiliki peran penting menyuarakan berbagai persoalan yang tidak terlihat di permukaan. Informasi tersebut menjadi bagian dari mekanisme whistleblowing yang turut memengaruhi keputusan investasi," katanya.

Ia berharap organisasi masyarakat sipil semakin aktif mengawal implementasi komitmen keberlanjutan perusahaan sehingga hilirisasi di Indonesia tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membawa manfaat sosial dan lingkungan secara berkelanjutan.

Editor : Yoseph Mario Antognoni

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network