Perbaiki IPM Manggarai Timur: Semangat Kolaborasi dan Kesadaran Kolektif Jadi Kunci

Ronald Tarsan
.
Rabu, 30 November 2022 | 09:34 WIB
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Pater David Djerubu, SVD., MA saat memaparkan materi. Foto: iNewsFlores.id/Ronald Tarsan

Borong, iNewsFlores.id - Universitas Katolik (Unika) St. Paulus Ruteng berkomitmen membantu Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dengan fokus utama dalam bidang bidang pendidikan dan kesehatan.

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Pater David Djerubu, SVD., MA dan Sekretaris Senat Perguruan Tinggi Unika St. Paulus Ruteng sekaligus Fasilitator Nasional Program Sekolah Penggerak, Dr. Marianus Mantovanny Tapung, S. Fil., M.Pd menjelaskan hal itu saat menjadi narasumber dalam acara talk show Expo Pendidikan dalam rangka merayakan HUT Kabupaten Manggarai Timur, (Senin, 28/11/2022).

Menurut David, kerja sama dalam rangka mendukung pembangunan manusia terjadi sudah sejak lama, terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Setidaknya 25 hingga 30%  mahasiswa Manggarai Timur yang secara reguler maupun non reguler (alih jenjang untuk PNS) kuliah dan menamatkan pendidikan di kampus Unika Ruteng. Sebagiannya saat ini sedang mengikuti proses perkuliahan di kampus tersebut.

"Mahasiswa-mahasiswa ini ada yang sudah tamat dan ada yang masih mengikuti proses perkuliahan. Alumnus dan mahasiswa ini setidaknya menjadi garda terdepan dalam memajukan pembangunan manusia di Manggarai Timur," ujarnya kepada wartawan di Ruteng Rabu (30/11/2022).

Ia menjelaskan, untuk menguatkan kerja sama antara Unika Ruteng bersama Pemda Manggarai Timur, sudah ditandatangani dokumen Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Dokumen-dokumen ini kata dia, menjadi bukti bahwa ada kerja sama dan komitmen dari UNIKA untuk ikut memajukan pembangunan manusia di MATIM.

"UNIKA siap mencetak  tenaga guru, kesehatan, pertanian, peternak dan teknis sipil yang handal untuk Manggarai Timur. Bukan hanya kegiatan mendidik, dosen-dosen kami juga siap turun ke Manggarai Timur untuk melakukan riset dan membuat kajian-kajian strategis dalam rangka membantu pemda mendesain pembangunan pada masa mendatang”, jelas Pater David.  

Sementara Dr. Mantovanny Tapung menyampaikan, IPM saat ini masih menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani secara serius oleh semua pihak, terutama yang bergerak dalam dunia pendidikan, kesehatan dan ekonomi. IPM Manggarai Timur menurut data BPS NTT, pada tahun 2020 sebesar 61,37. Meski sudah masuk dalam kategori ‘sedang’, namun masih terpaut cukup dari Manggarai Barat (64,- poin), Manggarai 65,- poin, propinsi NTT (65,- poin), dan jauh dari IPM Nasional (72,- poin). 

“Semangat kolaborasi dan kesadaran kolektif semua pihak harus dibangun secara positif dan konstruktif demi menangani masalah ini," pungkas dia.

Menurut Doktor Mantovanny, jika tidak segera ditangani, maka akan berdampak multiplier bagi dimensi kehidupan yang lain, seperti ketimpangan pendapatan masyarakat atau memperbesar jarak gini ratio, menurunnya derajat kesehatan, rendahnya pendapatan keluarga, menambah jumlah angka putus sekolah yang menyebabkan rendahnya angka partisipasi kasar dan murni dalam mengikuti pendidikan, muncul penggangguran dan kemiskinan laten, munculnya berbagai penyakit dan penyimpangan sosial.

Doktor Mantovanny menambahkan, kerja sama dan sama-sama kerja dengan para pihak menjadi sebuah keharusan (conditio sine qua non), agar kondisi ini teratasi dengan baik, berikut teratasinya juga masalah-masalah lain yang merupakan konsekuensi logis dari  masalah rendahnya IPM. Pada prinsipnya UNIKA St. Paulus Ruteng sebagai kampus yang berada paling dekat dengan Kabupaten Manggarai Timur, siap untuk berkolaborasi dalam mengatasi masalah IPM ini.

"Bukan hanya dengan Pemda Matim, dengan kabupaten lain di daratan Flores ini juga, kami bekerja sama. Hal ini sudah menjadi tugas profetik kampus, yang merupakan amanat Tridarma Perguruan Tinggi dan menjalani semangat Merdeka Belajar, Kampus Merdeka (MBKM) yang dicanangkan oleh pemerintah pusat," tambah Doktor Mantovanny.

Lebih jauh ia menjelaskan, saat ini kerja sama dalam kegiatan pendidikan sudah lebih mengemuka. Di mana, dalam rangka mempercepat Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) di Manggarai Timur, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) setidaknya telah mengutus sebanyak 9 dosennya sebagai Fasilitator Nasional untuk membina 67 sekolah penggerak.

Sejak 2020, dosen-dosen ini melakukan kegiatan pembinaan kepada sekolah-sekolah ini, dengan tujuan meningkatan kapasitas dan kapabilitas dari guru-guru sehingga berdampak pada kualitas mutu lulusan, proses pembelajaran, mutu guru dan manajemen sekolah. 9 dosen tersebut, antara lain: Dr. Marianus Mantovanny Tapung, Dr. Wahyuni Purnami, Dr. Sabina Ndiung, Frans Nendi, M.Pd., Fulgensius E. Men, M.Pd., Kanisius Mandur, M.Pd., Alfonsus Sam, M.Pd., Valeria Suryani, M.Pd., dan Tarsianus Golo, M.Pd.

Dalam kegiatan pembinaan dan fasilitasinya, 9 dosen ini memberdayakan sekolah agar kegiatan literasi, numerasi dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila berjalan dengan baik, sehingga berdampak signifikan bagi pengembangan masyarakat belajar di sekolah-sekolah Manggarai Timur. 

Untuk diketahui, Talk Show yang bertajuk “Expo Pendidikan, Mewujudkan Pendidikan Manggarai Timur yang Inovatif dan Berkarakter” menghadirkan sejumlah narasumber antara lain, Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas SH., M.Hum., Kadis PPO, Drs. Basilius Teto, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Unika St. Paulus Ruteng, P. David Djerubu, MA., Dosen Unika St. Paulus Ruteng sekaligus Fasilitator Nasional PSP, Dr. Marianus Mantovanny Tapung, S.Fil., M.Pd., dan utusan dari Wahana Visi Indonesia (WVI). Sementara peserta yang mengikuti talk show in, para Guru Penggerak (GP) dan Calon Guru Penggerak (CGP), kepala sekolah PSP, tim Kemendikbudristek bagian Standar Mutu Pendidikan Nasional, anggota DPRD, pimpinan dan jajaran SKPD, siswa/siswi PSP.

Editor : Yoseph Mario Antognoni

Follow Berita iNews Flores di Google News

Bagikan Artikel Ini