Puluhan Pelajar Terancam Putus Sekolah, TNI dan Warga Bangun Jembatan Swadaya
LABUAN BAJO, iNewsFlores.id – Derasnya arus Kali Wae Songkang tak lagi hanya menjadi cerita musiman. Sungai yang menjadi batas wilayah Kecamatan Kuwus Barat dan Kecamatan Pacar ini setiap hari harus diseberangi puluhan pelajar dari Desa Golo Lajang untuk menuntut ilmu. Saat hujan deras mengguyur, air sungai meluap hingga 10–15 meter dan kerap memutus langkah mereka ke sekolah.
Kondisi itulah yang menggerakkan hati masyarakat Desa Golo Lajang dan Golo Riwu untuk bergotong royong membangun jembatan gantung darurat di Kali Wae Songkang. Sejak pagi, warga tampak bahu-membahu mengumpulkan bambu besar dan panjang—dalam bahasa setempat disebut betong—sebagai bahan utama konstruksi jembatan.
Para pria terlihat sigap mengikat bambu dengan tali ijuk hitam (wahe oleh), menyatukan satu per satu hingga membentuk rangka dasar jembatan. Dari sisi Golo Lajang, pohon waru dimanfaatkan sebagai tumpuan alami, sementara di sisi Desa Golo Riwu dibangun dua tiang penyangga kokoh.
Konstruksi jembatan terbilang unik. Lapisan dasar dibuat dari potongan bambu pendek yang dipasang berjarak, lalu di atasnya disusun bambu panjang melengkung. Beberapa tiang tambahan juga dipasang di bagian tengah dan atas untuk memperkuat struktur.
Semangat gotong royong semakin terasa dengan kehadiran personel Polsek Kuwus dan Koramil 1630/03 Macang Pacar yang turut membantu proses pembangunan. Para ibu tak tinggal diam. Di dekat lokasi, tungku api menyala. Mereka menyiapkan hidangan sederhana berupa sayur daun ubi dan aneka masakan sebagai penyemangat para pekerja.
Dua tenda darurat juga didirikan di petak sawah yang kering. Terpal oranye menjadi atap, sementara terpal biru dan hijau dibentangkan sebagai alas untuk beristirahat dan makan bersama.
Ermelinda Damul, warga Desa Golo Lajang, mengatakan pembangunan jembatan ini murni inisiatif masyarakat. Mereka tergerak karena kasihan melihat anak-anak sekolah yang harus mempertaruhkan keselamatan saat menyeberangi sungai.
“Kalau hujan, air besar sekali. Jalan kaki mutar jauh. Kasihan anak-anak, makanya kami sepakat bikin jembatan darurat,” ujarnya.
Ia menegaskan tidak ada akses lain bagi para pelajar selain melewati Kali Wae Songkang. Hingga kini, sebanyak 21 pelajar dari Desa Golo Lajang—terdiri dari 10 siswa SD dan 11 siswa SMP—bergantung pada jalur ini untuk bersekolah di SDK Wetik dan SMP Negeri 1 Kuwus Barat.
Hal senada disampaikan Rafael Hendrikus Remi, salah seorang warga. Ia mengapresiasi keterlibatan TNI dan Polri yang membantu warga di lapangan. Menurutnya, saat hujan deras, banyak pelajar terpaksa absen karena tidak berani menyeberangi sungai yang meluap.
Pekerjaan pembangunan dimulai sejak pukul 09.00 Wita, sempat jeda untuk makan siang, lalu dilanjutkan hingga sore hari. Meski jembatan kini mulai terbentuk, warga masih harus menyelesaikan bagian pagar samping dan alas agar aman digunakan.
Jembatan gantung itu memang belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya. Namun bagi warga Golo Lajang dan Golo Riwu, bambu-bambu yang terikat hari ini adalah simbol harapan—agar anak-anak mereka tak lagi terhalang derasnya Wae Songkang dalam mengejar pendidikan.
Editor : Yoseph Mario Antognoni