Pemprov NTT Dapat Bantuan Pendeteksi Virus ASF dari Australia Senilai Rp1,4 Miliar

Ronald Tarsan
Tiga unit alat pendeteksi virus ASF bantuan Australia saat diterima secara langsung oleh Pemprov NTT. Foto: iNewsFlores.id/Istimewa

Kupang, iNewsFlores.id - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menerima bantuan alat diagnostik Loop Mediated Isothermal Amplification (LAMP) dari pemerintah Australia. Bantuan senilai Rp1,4 miliar itu bertujuan untuk mendeteksi virus African Swine Fever (ASF) atau demam Babi Afrika untuk mendukung pencegahan virus mematikan itu.

Wakil Gubernur NTT Josef A. Nae Soi mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih kepada lembaga Prisma dan AIHSP lembaga kemitraan Indonesia-Australia dalam bidang ketahanan kesehatan yang telah memberikan bantuan tiga unit alat deteksi virus ASF di NTT.

 "Sebanyak tiga unit alat deteksi virus melalui Prisma, lembaga kemitraan Australia-Indonesia dan AIHSP, lembaga ketahanan kesehatan Australia akan digunakan untuk mendeteksi virus ASF atau demam Babi Afrika yang akan ditempatkan di tiga lokasi, yaitu Pulau Flores, Timor, dan Sumba guna mendukung Dinas Peternakan dalam pemeriksaan sampel dugaan virus ASF," kata Wagub NTT di Kupang, Selasa (7/2/2023).

Dia menjelaskan ternak babi yang dibutuhkan masyarakat NTT karena erat kaitan dengan kegiatan budaya sehingga upaya pencegahan penularan ASF sangat penting. Pemerintah NTT berterima kasih kepada pemerintah Australia melalui lembaga Prisma dan AIHSP karena telah memberikan bantuan tiga unit alat pemeriksaan virus ASF.

"Setelah adanya tiga alat ini maka pemeriksaan sampel untuk pendeteksian virus ASF menjadi lebih mudah, sehingga upaya pencegahan penularan virus ASF lebih cepat dilakukan," jelas Josef.

Direktur Program Kemitraan Indonesia-Australia dalam bidang ketahanan kesehatan (AIHSP), Jhon Leigh mengatakan, terjadi peningkatan kasus penularan ASF yang signifikan di beberapa kabupaten di NTT.

Dia menjelaskan penyakit ini merupakan virus yang menular, sedangkan NTT provinsi yang memiliki populasi ternak babi terbesar di Indonesia. Ia menguraikan, penularan virus ASF pertama kali menimpa ternak babi di NTT pada 2020 yang menyebabkan puluhan ribu babi mati sehingga merugikan peternak di daerah itu.

"Penularan virus ASF yang begitu cepat tentu secara ekonomi merugikan para peternak babi di NTT," ungkap dia.

Dia mengatakan, belum ada vaksin untuk mencegah penyebaran virus ASF, sehingga salah satu upaya pencegahan dengan melakukan deteksi dini melalui diagnosa penyakit secara akurat.

"Diagnosa lebih awal yang cepat dan akurat sangat membantu pemerintah dalam mengambil keputusan sebagai upaya penanganan penularan ASF," tegasnya.

Pemprov NTT selama ini kesulitan dalam penanganan kasus ASF dengan cepat karena harus mengirimkan sampel virus ASF untuk dilakukan pemeriksaan di Bali, sehingga membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan hasilnya.

Ia berharap, dengan adanya tiga alat diagnostik LAMP bisa membantu pemprov setempat dalam penanganan penularan ASF secara lebih cepat.

Editor : Yoseph Mario Antognoni

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network